2022-05-16 20:02:59

Cegah Wabah PMK, Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi Minta Ada Pengawasan Ketat Lalu Lintas Hewan Ternak.



Banyuwangi-Untuk mencegah penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang ternak sapi di Kabupaten Banyuwangi, Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi, Hj. Mafrochatin Ni'mah berharap ada pengawasan ketat lalu lintas hewan. 

Selain itu pihak Dinas Pertanian dan Pangan diharapkan menyatukan kondisi para peternak di daerah, dan melakukan pendampingan jika diketahui ada gejala penularan di tingkat peternakan.

“Saya minta pemerintah daerah membuat Standart Operasional Prosedur (SOP) cara penanganan dan pencegahan penyakit Kuku dan Mulut Sapi, dan memulai sosialisasi ke bawah (desa-desa),” ucap Hj.Ni'mah panggilan Ketua Komisi II DPRD Banyuwangi ini melalui sambungan Telepon, Senin (16/05/22)

Untuk mengantisipasi masuknya penyebaran PMK pada ternak, Pemerintah daerah harus segera bergerak cepat untuk mengoptimalkan pengawasan dan pengecekan hewan ternak di perbatasan yang masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi.

Lebih dari cukup, Hari Raya Idhul Adha, permintaan sapi maupun kambing tinggi. Untuk itu, langkah antisipasi penyebaran PMK ternak harus terus ditingkatkan.

“Momen Idhul Adha sebentar lagi akan berlangsung sehingga kebutuhan atau permintaan ternak dijadikan hewan kurban cukup tinggi. Guna memberikan rasa aman bagi masyarakat yang akan melakukan kurban, maka jaminan kesehatan hewan yang akan disembelih harus terjaga,” ucap Hj.Ni'mah.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini juga meminta masyarakat khususnya peternak untuk melaporkan apabila menemukan indikasi penyakit pada bagian mulut dan kuku hewan ternak. Apalagi jika hewan ternak tersebut baru dibeli dari luar wilayah Banyuwangi.


Sementara Plt Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, M. Khoiri dalam keterangannya menyampaikan sampai saat kasus PMK belum ditemukan di Banyuwangi. 


“Terkait hal ini, kami mengimbau agar warga tidak panik untuk menjual ternaknya (panic selling). Kasus ini belum di Banyuwangi, walaupun jumlah ternak di daerah Jatim sudah ada yang terinfeksi,” ujar Khoiri.


Meski demikian, Pemkab telah melakukan sejumlah langkah untuk mencegah masuknya penyakit yang menyerang ternak ruminansia (hewan pemamah biak) tersebut.


“Langkah antisipatif sebagai upaya kewaspadaan dan kesiapsiagaan telah kita lakukan sejak beberapa hari lalu,” papar Khoiri.


Di antaranya melakukan surveilans dan deteksi dini pada hewan ternak di daerah-daerah kantong ternak, pedagang ternak, pasar hewan, serta ternak milik warga.  


Banyuwangi menerjunkan tim gabungan dari dinas terkait, petugas lapangan kecamatan, Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PHDI) Banyuwangi, hingga Fakultas Kedokteran Hewan Unair.


Tim ini setiap keliling hari ke desa-desa, terutama pasar hewan dan daerah perbatasan. Seperti di Kalibaru dan Wongsorejo yang merupakan pintu masuk lalu lintas ternak dari daerah lain.


“Tim sudah bergerak sejak hari Minggu (8/5) lalu, hingga nanti di seluruh kecamatan,” ujar Khoiri.


PMK merupakan penyakit yang disebabkan oleh Foot and Mouth Disease Virus (FMDV). Ini merupakan penyakit hewan menular yang menyerang ternak seperti sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan babi dengan penularan mencapai 90-100%. 


"Namun penyakit ini tidak menular ke manusia, melainkan menular ke sesama hewan saja," jelas Khoiri. 


Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi drh. Nanang Sugiarto menambahkan, pemkab juga membuka layanan kesehatan hewan di daerah-daerah rawan, perbatasan, dan pasar hewan.


“Kita melakukan pemeriksaan, jika ada ternak yang sakit (meski tidak mengarah ke PMK) akan diberikan vitamin dan mineral untuk meningkatkan status kesehatannya,” ujar drh. Nanang.


Peternak juga diberikan edukasi tentang tanda klinis penyakit PMK. Di antaranya demam tinggi (39-41 derajat celcius), keluaran berlebihan dari mulut dan berbusa, luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah, tidak mau makan, kaki pincang, luka pada kaki dan diakhiri lepasnya kuku, sulit berdiri, gemetar , napas cepat, produksi susu turun drastis dan menjadi kurus. 


“Jika ternak ditemukan dengan gejala seperti ini, agar dipisahkan dengan yang lain. Tetap di kandang dan segera laporkan kepada petugas agar segera ditangani,” ujar Nanang.


Untuk mencegah penularan PMK, warga juga diimbau untuk tidak memasukkan ternak baru ke dalam kandang. "Pisahkan terlebih dahulu beberapa waktu, jika memang tidak ada gejala mengarah ke PMK baru boleh dicampur dengan yang lain," ujarnya.


Pemkab juga telah berkoordinasi dengan pihak PDHI cabang Jawa Timur 4, Perhimpunan Paramedik Veteriner Indonesia Banyuwangi, FKH Unair Banyuwangi, pemerintah pusat dan terkait pencegahan dan penyebaran PMK.



Lihat berita lainnya






DPRD Banyuwangi
  • Senin - Kamis 08:00 – 16:00 WIB
  • Jumat 07:30 – 16:00 WIB

Tutorial SIPRADA
Unduh Tutorial
Info Pengaduan
Tanggapan Anda
Sungguh kami bahagia bila Anda dapat meluangkan waktu untuk memberikan tanggapan tentang aplikasi Aspirasi kami

Suka Tidak Suka